Sahur tadi setelah menyantap ikan dencis, ikan teri plus kacang tanah and sayur daun ubi (thanks to my sist) tibalah sholat Subuh. Sehabis itu aku berencana tidur, tetapi di tengah kesunyian dengan mencoba untuk tidur dengan lelap, mengingatkan aku dengan kenangan indah dengan orang yang sudah tidak hadir di Ramadhan ini.

Orang pertama yang meninggalkan dunia ini pada awal abad 21 adalah Papajul. Semasa hidup beliau topik yang sering kami bahas adalah sepak bola, dan dia juga bisa dikatakan teknisi yang andal. Pada masa SMP lalu, setiap hari sabtu aku lumayan sering ke rumah Mamade, pada siang itu sering ada acara di RCTI yang bernama Total Footbal dan disitulah kami mulai membahas sepak bola bagaikan komentator yang handal.

Orang kedua adalah Wak Rusli, beliau adalah abangnya papaku. Aku jarang bertemu dengan beliau, tetapi apabila keluarga besar papaku kumpul wak rusli sering kali hadir diantara kami. Masih ingat aku senyumnya yang bulat dan melihat beliau bercengkrama dengan Papaku dan Mamaku.

Orang ketiga adalah Almarhum Papaku. Beliau is a good father, dari ketiga bersaudara beliau sangat mengandalkan aku. Pada tahun 2004, di pagi hari aku kehilangan HP di kos an. Besoknya setelah makan siang bersama dengan temanku, papaku dengan kejutan datang ke kos an aku dari Medan. Betapa surprisenya aku beliau datang, papaku datang datang dengan spontanitas karena merindukan aku. Pada bulan puasa 2005 aku lebaran di Medan, aku tidak bisa melupakan saat puasa dirumah. Kami buka puasa bersama di satu meja, dan pada saat lebaran tersebut kami kumpul dirumahku yang tercinta. Seluruh keluarga ibuku datang ke rumah beserta keluarga papaku (sekarang kami sudah jarang kumpul secara bersamaan pada saat lebaran), karena papaku ada orang tertua (keluarga papaku) yang ada di Medan maka kami biasanya kumpul disana. Sayangnya kami tidak berkumpul pada lebaran 2006, banyak kenangan indah dan pelajaran penting yang aku petik dari Papaku. Semoga beliau diterima di sisi-Nya, amal ibadahnya diterima-Nya dan dosanya di dunia diampuni.

Orang keempat adalah Wak Ali. Beliau adalah pensiunan militer, orangnya selalu rapi dan tidak ketinggalan minyak wangi yang selalu beliau pakai. Kami sering ngobrol tentang perjalanannya beliau sewaktu menjadi anggota militer. Pada piala dunia tahun 1994 aku mengunjungi rumah beliau di Jambi, masih ingat beliau membawa aku dengan angkotnya keliling Jambi. Yes, beliau narik angkot setelah pensiunan, kata beliau daripada nganggur dirumah. Wak Ali merupakan abang tiri nya papaku, mereka sangat dekat satu sama lain.

Orang kelima pada saat ini ada Bou Mas. Almarhumah merupakan koki yang cukup handal, masakannya tidak diragukan lagi secara beliau mempunyai catering sendiri. Bou mas orang selalu murah senyum, dulu kami sering kerumahnya dan berkumpul antar keponakan yang lainnya antara lain si tata, bang ivan, bang andri, karina, bang tommi, bang yosi, bang ucok. Rumahnya sering menjadi base camp.

Orang keenam dan terakhir adalah Oma. Nenek saya satu-satunya yang saya sayangi. Masih teringat aku dengan pertemuan terakhir kami. Beliau menitikan air mata yang tidak biasanya. Apabila aku pergi ke luar kota, maka sebelum ke airport aku pasti kerumah nya untuk pamitan. Pada puasa tahun lalu aku membawa beliau makanan buka puasa yang dimasakkan ibuku. Dan buah favoritnya adalah durian, dan juga dia juga suka makan pagi pulut + pisang goreng dan tentu saja aku yang sering membawa ke rumahnya. Pada waktu kecil sering sekali aku digaruknya dan dia sampai pada akhir hayatnya selalu mengingatkan aku agar sholat jangan tinggal (miss u oma). Semoga beliau diterima di sisi-Nya, amal ibadahnya diterima-Nya dan dosanya di dunia diampuni.

Wah jadi ngantuk, tidur bentar dulu baru kerja.